Kamis, 30 Maret 2017

D. Merealisasi Sebuah Cita-cita

Tentu saja jelajah bibliografis ini masih jauh dari lengkap dan sempurna. Masih banyak penulis dan tulisan yang belum tercatat di sini. Apalagi banyak pula tulisan yang ditulis untuk kesempatan tertentu saja dan tidak didokumentasikan. Tidak boleh dilupakan di sini berbagai penerbitan sederhana oleh berbagai lembaga atau yayasan adat dan kebudayaan Minahasa yang sudah pernah ada. Ada misalnya buletin dari tahun 1977 berjudul “Seri Mapalus. Koleksi Warisan Nenek Moyang” oleh Vincent O.L. (Jakarta: Yayasan Mapalus), atau buku kecil stensilan dari I.W. Palit, “Sejarah Manusia Pertama di Minahasa” (tanpa tahun). Pada Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) di Tomohon pada tahun 1980 buku stensilan ini diedarkan kepada para peserta sidang.



Masih merupakan cita-cita pribadi untuk menyusun sebuah katalog terbitan-terbitan mengenai Minahasa. Tulisan ini hanyalah salah satu langkah ke arah perwujudan cita-cita tersebut. Minahasalogi perlu terus dikembangkan. Barangkali satu waktu nanti cita-cita ini bisa bermuara pula pada pendirian satu pusat dokumentasi dan arsip bagi studi ke-Minahasa-an. Atau barangkali satu pusat studi Minahasalogi. Namun demikian terlalu muluk-muluk untuk segera berpikir tentang sebuah gedung, tentang lemari-lemari buku atau laci-laci arsip yang berderet-deret, tentang komputer yang berisi data bibliografis, tentang koleksi microfiche. Langkah pertama adalah pendataan “apa yang ada”, yaitu publikasi, naskah dan tulisan apa saja yang sudah ada. Inilah awal dari penyusunan katalog lengkap mencakup penulis, judul, bidang penelitian, jenis tulisan, dan seterusnya. Langkah kedua adalah pendataan di mana publikasi, naskah dan tulisan itu bisa ditemukan. Setidaknya diketahui kepada siapa kita bisa bertanya untuk menemukan satu naskah misalnya. Nanti pada langkah ketiga dan langkah-langkah selanjutnya kita mulai memikirkan bagaimana mengumpulkan, mendokumentasikan serta mengarsipkan semua ini sehingga accessible, baik bagi pemerhati atau peneliti, teristimewa bagi setiap orang Minahasa yang hendak menggali akar-akar identitasnya. Kata kunci utama di sini adalah accessibility. Minahasalogi harus senantiasa menjadi gerbang yang terbuka bagi proses “baku beking pande” dan realisasi “si tou timou tumou tou”.