Tentu saja jelajah
bibliografis ini masih jauh dari lengkap dan sempurna. Masih banyak penulis dan
tulisan yang belum tercatat di sini. Apalagi banyak pula tulisan yang ditulis
untuk kesempatan tertentu saja dan tidak didokumentasikan. Tidak boleh
dilupakan di sini berbagai penerbitan sederhana oleh berbagai lembaga atau
yayasan adat dan kebudayaan Minahasa yang sudah pernah ada. Ada misalnya
buletin dari tahun 1977 berjudul “Seri Mapalus. Koleksi Warisan Nenek Moyang”
oleh Vincent O.L. (Jakarta: Yayasan Mapalus), atau buku kecil stensilan dari
I.W. Palit, “Sejarah Manusia Pertama di Minahasa” (tanpa tahun). Pada Sidang
Raya IX Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) di Tomohon pada tahun 1980 buku
stensilan ini diedarkan kepada para peserta sidang.
Masih merupakan cita-cita pribadi untuk menyusun sebuah katalog
terbitan-terbitan mengenai Minahasa. Tulisan ini hanyalah salah satu langkah ke
arah perwujudan cita-cita tersebut. Minahasalogi perlu terus dikembangkan.
Barangkali satu waktu nanti cita-cita ini bisa bermuara pula pada pendirian
satu pusat dokumentasi dan arsip bagi studi ke-Minahasa-an. Atau barangkali
satu pusat studi Minahasalogi. Namun demikian terlalu muluk-muluk untuk segera
berpikir tentang sebuah gedung, tentang lemari-lemari buku atau laci-laci arsip
yang berderet-deret, tentang komputer yang berisi data bibliografis, tentang
koleksi microfiche. Langkah pertama adalah pendataan “apa yang ada”, yaitu
publikasi, naskah dan tulisan apa saja yang sudah ada. Inilah awal dari
penyusunan katalog lengkap mencakup penulis, judul, bidang penelitian, jenis
tulisan, dan seterusnya. Langkah kedua adalah pendataan di mana publikasi,
naskah dan tulisan itu bisa ditemukan. Setidaknya diketahui kepada siapa kita
bisa bertanya untuk menemukan satu naskah misalnya. Nanti pada langkah ketiga
dan langkah-langkah selanjutnya kita mulai memikirkan bagaimana mengumpulkan,
mendokumentasikan serta mengarsipkan semua ini sehingga accessible, baik bagi
pemerhati atau peneliti, teristimewa bagi setiap orang Minahasa yang hendak
menggali akar-akar identitasnya. Kata kunci utama di sini adalah accessibility.
Minahasalogi harus senantiasa menjadi gerbang yang terbuka bagi proses “baku
beking pande” dan realisasi “si tou timou tumou tou”.